Tim Paduan Suara, Yel-Yel dan Senam UKS Espara

Tim Paduan Suara, Yel-Yel dan Senam UKS Espara

Sabtu, 02 Februari 2013

Layakkah Tembang Macapat Diajarkan Di Sekolah?



Oleh: Samsul Hadi

MGMP Bahasa Daerah Jawa-Madura Kabupaten Bondowoso

            Dalam Standar Isi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan tembang macapat  masih dipilih menjadi pokok bahasan yang harus diajarkan guru kepada siswa. Akan tetapi, pada beberapa sekolah di berbagai daerah di Jawa Timur pokok bahasan tembang macapat   dilewatkan begitu saja oleh guru. Mengapa tembang macapat tidak diajarkan oleh guru kepada siswanya? Adakah tindakan pejabat yang membawahi guru, menindak tegas guru yang tidak mengajarkan tembang macapat kepada siswanya?

            Dua pertanyaan di atas sudah sering dijawab baik oleh guru maupun pengamat pengajaran bahasa Jawa. Jawaban yang sering muncul atas pertanyaan pertama, bahwa guru tidak menguasai tembang macapat. Sedangkan jawaban yang sering muncul atas pertanyaan kedua oleh sebagian guru bahasa jawa  adalah karena tembang macapat  tidak masuk menjadi poin tes dalam ujian.
            Guru tidak menguasai tembang macapat. Munculnya kondisi semacam itu tidak banyak orang yang mengusiknya. Mengapa guru tidak menguasai tembang macapat? Pertanyaan semacam itu mestinya wajar dimunculkan. Guru yang dalam pekerjaannya selalu dipandu kurikulum, justeru kenyataannya berani melanggarnya. Alasannya,  karena tidak menguasai materi. Mengapa guru tidak berupaya menguasai materi tentang tembang macapat?
            Pelanggaran kurikulum oleh guru, karena guru tidak mengajarkan tembang macapat kepada siswanya, selalu dimaklumi dan dimaafkan. Sejauh ini belum pernah ada kabar berita, penanganan guru yang tidak mengajarkan tembang macapat kepada siswanya oleh kepala sekolah ataupun pejabat di atasnya lagi. Mengapa hal itu terjadi?
Kondisi tembang macapat  menjadi pusaran jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas. Sikap dan pandangan masyarakat Jawa dan juga guru menjadi ujung penentu pengajaran tembang macapat. 

            Tembang macapat penting ataukah tidak penting (diperlukan ataukah tidak diperlukan) bagi masa depan anak didik kita? Adakah instansi pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), atau perusahaan swasta yang dalam seleksi penerimaan calon pegawainya mensyaratkan penguasaan tembang macapat?
            Sebagian besar masyarakat  Jawa –terlebih lagi masyarakat Jawa yang berada di Jawa Timur (baca: Kabupaten Bondowoso) memiliki sikap dan pandangan seperti pertanyaan kedua di atas. Sikap dan pandangan pragmatis-instrumental yang lebih banyak dipilih oleh masyarakat Jawa itu sangat tidak menguntungkan bagi kehidupan tembang macapat. Demikian juga untuk pengajarannya. Di antara sebagian besar masyarakat Jawa yang bersikap dan berpandangan semacam itu adalah golongan masyarakat yang berprofesi guru, bahkan ada pula guru yang kebetulan mengajarkan bahasa Jawa. Apakah kejadian semacam itu dapat dipandang sebagai kejadian yang ironis? Guru bahasa Jawa (SD dan SLTP) dan guru yang mengajarkan bahasa Jawa sah-sah saja memiliki sikap dan pandangan pragmatis-instrumental terhadap tembang macapat. Guru semacam itu dalam pekerjaannya akan dengan serta-merta melewati pokok bahasan tembang macapat dan/atau tidak diajarkan kepada siswanya. Menyajikan tembang macapat dianggapnya buang-buang waktu dan tenaga saja alias tidak efisien.
            Sikap dan pandangan pragmatis-instrumental  terhadap tembang macapat bukan lagi merupakan sikap dan pandangan individu dalam masyarakat Jawa, tetapi telah menjadi sikap dan pandangan kolektif dalam masyarakat Jawa. Oleh sebab itu, dapat dikatakan sikap dan pandangan pragmatis-isntrumental  terhadap tembang macapat itu lebih dominan pada sebagian besar masyarakat Jawa. Adakah semua itu merupakan bentuk penolakan asal-asalan kepada semua yang berbau klasik, seperti dikatakan John Naisbitt dan Patricia Aburdene (1990), sebagai ciri gaya hidup global milineum ketiga?  Mungkin saja demikian, pendeknya sikap dan pandangan pragmatis-instrumental  terhadap tembang macapat turut memegang prinsip efektif-efiesien, prediktabelitas, dan kalkulabilitas sebagai bagian ciri kehidupan masyarakat global sebagaimana digambarkan George Ritzer (1996).
            Sikap dan pandangan pragmatis-instrumental sebagian besar masyarakat Jawa di atas sering membutakan sebagian kecil orang Jawa yang berupaya menguasai tembang macapat untuk mengais rupiah. Ada sebagian kecil orang Jawa yang sengaja mendalami tembang atau dongeng untuk bisa memperoleh keuntungan ekonomis. Produksi kaset dan buku tembang macapat adakalanya membuat sebagian kecil masyarakat Jawa itu menjadi kaya. Akan tetapi kenyataan itu, dianggap oleh sebagian besar masyarakat Jawa yang bersikap pragmatis-instrumental terlalu kecil untuk membuktikan bahwa tembang macapat masih fungsional, tidak kontra-ekonomis-produktif, dan tidak kontra-pragmatis-instrumental.
            Selain adanya sebagian besar masyarakat Jawa yang bersikap dan berpandangan pragmatis-instrumental seperti di atas, masih ada sebagian kecil masyarakat Jawa yang bersikap dan berpandangan ideasional-substansial. Tembang macapat pada tataran ideasional-substansial dipandang fungsional untuk penanaman nilai-nilai budi pekerti yang luhur. Nilai-nilai luhur budaya Jawa dapat ditanamkan kepada anak-anak Jawa melalui tembang macapat. Watak tembang macapat  dapat menjadi suri tauladan membentuk budi pekerti yang luhur.
            Sikap dan pandangan ideasional-substansial di atas dapat saja mengalahkan sikap dan pandangan pragmatis-instrumental. Orang tidak perlu memikirkan tembang macapat dapat menjadi ajang atau sarana untuk aktivitas ekonomis-produktif; bahkan pula sebaliknya, orang juga  tidak perlu memikirkan tingkat keberhasilan penanaman nilai-nilai budi pekerti luhur kepada anak melalui tembang macapat dengan membandingkan melalui sarana yang lain. Sikap dan pandangan ideasional-substansial terhadap tembang macapat tersebut, seperti dikatakan Neuhauser (1993) telah menjadi bentuk kesetiaan tersendiri orang Jawa terhadap budaya etnisnya dan merupakan bagian yang berarti dari perilaku orang Jawa yang semestinya dihormati dan diperhatikan. Atau,  seperti pandangan pakar psikologi Abraham Maslow (Schultz, 1981) Sikap dan pandangan ideasional-substansial terhadap tembang macapat itu telah menjadi citra alamiah manusia Jawa dan sebagai bentuk khusus aktualisasi diri.
            Tegangan antara dua pilihan nilai yang terjadi dalam masyarakat Jawa dewasa ini –nilai pragmatis-instrumental dan ideasional-substansial-- memang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tembang macapat. Akan tetapi, kondisi itu masih memberi ruang hidup tembang macapat. Sebagian kecil masyarakat Jawa yang menganut nilai ideasional-substansial dengan segala kepeduliannya mampu menghidupi, menumbuhkan, dan mengembangkan tembang macapat. Kelompok masyarakat Jawa seperti itu menjadi elite budaya tersendiri dalam masyarakat Jawa, yang cukup terbedakan dengan kelompok mayoritas penegak nilai pragmatis-instrumental. Adanya kelompok-kelompok macapatan  di kota besar seperti Surabaya, Malang, Jogjakarta, Sala, dan Semarang menjadi andalan wadah kehidupan, pertumbuhan, dan perkembangan tembang macapat dalam gesekan dengan kelompok mayoritas yang memandang bahwa memikirkan tembang hanya pemborosan waktu dan tenaga.
            Elite budaya penegak nilai ideasional-substansial semakin hari semakin mengecil jumlahnya. Pada kalangan orang tua semakin berkurang, karena telah banyak di antara mereka yang lengser keprabon memenuhi panggilan yang Mahakuasa; sedangkan pada kalangan remaja yang jumlahnya juga kecil telah banyak terkontaminasi dengan nilai pragmatis-instrumental. Pada kasus terakhir itu, memunculkan kondisi sulit bagi pengelola jurusan pendidikan bahasa Jawa atau sastra Jawa di perguruan tinggi dalam menyeleksi calon mahasiswanya
Sebuah pertanyaan besar sering muncul bagi orang tua siswa/mahasiswa ataupun oleh siswa/mahasiswa sendiri, dapatkah dengan ijasahnya nanti mereka dapat memperoleh pekerjaan yang layak bagi dirinya? Pertanyaan itu sering terjawab dengan keadaan banyaknya bangku kosong di jurusan pendidikan bahasa Jawa atau sastra Jawa di perguruan tinggi serta pada jurusan karawitan atau pedalangan di sekolah menengah kejuruan (SMK).
            Apapun yang terjadi, pilihan di antara dua nilai terhadap tembang macapat dalam masyarakat Jawa di atas adalah pilihan manasuka bagi orang Jawa. Era bisa turut berbicara, jaman bisa turut berkumandang, dan kondisi bisa turut mengisi. Oleh sebab itu, tidak ada penghakiman dan penghukuman atas pilihan apa saja dan kepada siapa pun. Pilihan apa pun sah-sah saja, untung dan rugi ditanggung sendiri-sendiri. Pilihan tengah, memadukan antara nilai ideasional-substansial dan pragmatis-instrumental bisa saja terjadi. Sebagaimana Lerner (1983) mengatakan tradisionalisme bisa bertahan dengan campur tangan teknonologi. Pemertahaanan tembang macapat dapat dilakukan melalui penyelarasan dengan konteks era, jaman, dan kondisi serta dikembangkan dengan teknologi kekinian yang efektif-efisien, prediktabelitas, dan kalkulabilitas.
Penghakiman dan penghukuman atas pilihan-pilihan nilai di atas hanya bisa dikenakan kepada orang-orang yang memiliki profesi yang berkewajiban menguasai tembang macapat. Adakah profesi yang semacam itu? Profesi semacam itu dimiliki oleh guru yang diikat dan dipedomani oleh kurikulum dalam wilayah kerjanya.
Searah dengan upaya yang harus dilakukan pejabat di bidang pendidikan, guru bahasa Jawa tidak ada alasan lagi untuk meninggalkan kewajibannya dengan tidak mengajarkan tembang macapat kepada siswanya. Untuk itu, belajar memahami dan melakukan upaya pelatihan diri tembang macapat secara intensif menjadi kewajiban sebelum mengajarkan kepada siswanya.
            Guru bahasa Jawa harus menjadi orang Jawa yang memegang nilai ideasional-substansial terhadap tembang macapat. Guru bahasa Jawa harus menjadi kelompok elite profesional yang  bersikap dan berpandangan bahwa tembang macapat mengandung dan/atau dapat menjadi sarana pendidikan nilai-nilai budi pekerti luhur. Dengan demikian, guru harus memahami aneka macam tembang macapat yang berkembang di masyarakat Jawa dari dulu hingga kini.
            Dengan bekal tersebut, guru pun berupaya agar siswa mencintai tembang macapat. Guru me(re)produksi wacana ke arah kecintaan terhadap tembang macapat. Dengan kreativitasnya, guru dapat menyajikan tembang Asmaradana pembuka (bawa) lagu dangdut Anoman Obong yang disajikan oleh Inul Daratista.
Caritane wayang Jawi,
ing nagri Ngalengkadraja,
Rahwana raja arane,
geger nyolong Dewi Sinta,
Anoman cancut tumandang,
Ngalengka digawe awu,
kobong gedhe jroning para.

            Tembang ciptaan Ranto Gudel itu lebih dikenali oleh siswa sekarang, daripada tembang Pocung seperti berikut.
Bapak pocung, dudu watu dudu gunung,
sabamu ing sendhang,
pencokanmu lambung kering,
prapteng wisma si pocung mutah kuwaya.

            Tembang Pocung di atas juga dapat dibandingkan kekiniannya dengan  tembang serupa yang dipergunakan untuk pembuka lagu Blitar berikut.
Blitar iku, ngemot sejarah mituhu,
Patih Gajahmada,
uga tokoh proklamasi,
ya Bung Karno presidhen kang sepisanan.

Penguasaan tembang macapat dibutuhkan guru untuk dapat mengajarkan kepada siswa. Akan tetapi, dukungan teknis mengajar (pemanfaatan alat seperti tape atau video) juga diperlukan untuk menopang pencapaian tujuan supaya siswa mencintai tembang macapat.

Penutup
          Urgensi tembang macapat ditentukan oleh pilihan nilai. Keberadaan tembang macapat sebagai pokok bahasan dalam mata pelajaran bahasa Jawa di sekolah didasarkan pada pilihan nilai ideasional-substansial. Sebagaimana saran Garcia (1982) pengajaran pada masyarakat majemuk pilihan nilainya terhadap tembang macapat, kemasan tema-tema kekinian dalam tembang macapat akan menyokong daya hidupnya pada masa kini dan yang akan datang dan pemanfaatan teknologi modern dalam pengajaran akan membangun kesetaraan warga belajar.

Daftar Pustaka:
Naisbitt, John and Patricia Aburdene, 1990. Ten New Directions for the 1990’s: Megatrends 2000. New York: Avon Books
Neuhauser, Peg C., 1993. Corporate Legends and Lore. New York: McGraw-Hill, Inc.

Ritzer, George, 1996. The McDonaldization of Society. California: Pine Forge Press

Schultz, Duane. 1981. Theories of Personality. California: Brooks/Cole Publishing Company

Garcia, Ricardo L. 1982. Teaching in a Pluralistic Society. New York: Haerper & Row Publisher

Lerner, Daniel, 1983. Memudarnya Masyarakat Tradisional (terjemahan Mujarto Tjokrowinoto). Jogjakarta: Gadjah Mada University Press


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by PKS Piyungan