Sekolah Adiwiyata Provinsi Jawa Timur Tahun 2014

Sekolah Adiwiyata Provinsi Jawa Timur Tahun 2014

Sabtu, 30 November 2013

Tembung Dwiwasana Dalam Tinjauan Linguistik

Tembung dwiwasana adalah salah satu bentuk tembung rangkep dalam bahasa Jawa. Disebut tembung dwiwasana karena proses pembentukannya dengan jalan mengulang bagian akhir dari suku kata bentuk dasarnya. Nah... untuk melihat lebih lanjut tentang Tembung Dwiwasana mari kita lihat kiriman artikel dari Bapak Samsul Hadi.


TEMBUNG DWIWASANA DALAM TINJAUAN LINGUISTIK
Oleh : Samsul Hadi

  1. Pendahuluan
                Tembung dwiwasana adalah salah satu bentuk tembung rangkep dalam bahasa Jawa. Disebut tembung dwiwasana karena proses pembentukannya dengan jalan mengulang bagian akhir dari suku kata bentuk dasarnya.  Kata tersebut berasal dari kata dwi dan wasana. Dwi berarti dua, atau rangkap. Wasana berarti akhir.
            Istilah tembung dwiwasana  dalam dunia linguistik Jawa tradisional sudah sangat populer. Hampir semua ahli bahasa Jawa menggunakan istilah tersebut. Poerwodarminto (1953), Poedjosoedarmo (1981), Suwadji (1986), dan Padmosoekotjo (1986), mengklasifikasikan tembung rangkep menjadi: (1) tembung dwipurwa, (2) tembung dwilingga, (3) tembung dwilingga salin swara, dan (3) dwiwasana.
            Bentuk kata seperti: nenandur, memangan, lelakon, tetuku, dan semacamnya adalah bentuk yang dikenal sebagai tembung dwipurwa. Bentuk kata seperti: mlaku-mlaku, nggantheng-nggantheng, ayu-ayu, gedhe-gedhe, dan semacamnya disebut sebagai bentuk tembung dwilingga. Apabila terjadi perubahan bunyi seperti: bola-bali, mesam-mesem, milang-miling, nongas-nangis, dan semacamnya disebut tembung dwilingga salin swara. Sedangkan bentuk kata seperti: cekikik, cekakak, methethek, methothok, jedhindhil, cengenges, cengunguk, jelalat, dan semacamnya dikenal sebagai bentuk tembung dwiwasana.
            Yang menjadi permasalahan adalah, bahwa selama ini bentuk tembung dwiwasana dalam bahasa Jawa masih menjadi polemik. Sebagian ahli bahasa Jawa menyatakan bentuk dwiwasana memang ada dalam bahasa Jawa. Sebagian yang lain menyatakan tidak ada. Benarkah proses pembentukan  tembung dwiwasana memenuhi kaidah linguistik sehingga disebut  rimbag rangkep dwiwasana? Untuk memperoleh Jawaban dari pertanyaan tersebut perlu dilakukan kajian lebih mendalam.
            Sebagai asumsi dalam pembahasan permasalahan ini memandang bahasa sebagaimana pandangan Franz Boas (dalam Samsuri, 1988: 51) seorang tokoh linguistik struktural Amerika Serikat, bahwa tidak ada satu bahasapun di dunia ini yang menjadi ukuran bagi bahasa-bahasa yang lain. Setiap bahasa selalu memiliki kategori-kategori logis tertentu yang merupakan keharusan digunakan dalam bahasa tersebut.
            Edward Sapir (dalam Samsuri 1988: 54) memberikan batasan tentang bahasa sebagai berikut: Bahasa adalah suatu metoda yang semata-mata dipergunakan manusia dan tidak bersifat naluri yang dipergunakan untuk mengkomunikasikan ide, perasaan dan keinginannya dengan menggunakan sistem lambang secara suka rela.
            Asumsi lain tentang bahasa Jawa adalah memandang bahwa bahasa Jawa juga terdiri dari lambang bunyi yang berstruktur dan bersistem; Bahwa bahasa Jawa juga terdiri dari struktur fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik; Bahwa bahasa Jawa juga terdiri atas dialek-dialek, tingkat tutur, ragam bahasa, dan juga memiliki register-register (Poedjosoedarmo 1981:2)
                Dwiwasana adalah salah satu bentuk rimbag rangkep, yang dalam istilah linguistik disebut reduplikasi. Banyak para ahli linguistik mendefinisikan tentang reduplikasi. Sulchan Yasin (1987:129) mendefinisikan sebagai proses perulangan bentuk dasar. Sudaryanto (1991 : 39) menyebutnya sebagai kata jadian yang dibentuk dengan proses pengulangan. Adapun bentuk baru sebagai hasil proses pengulangan tersebut lazim disebut tembung rangkep.
            Rimbag rangkep (reduplikasi) merupakan proses morfemis (Verhaar, 1990:60). Rimbag rangkep selalu memiliki bentuk dasar yang diulang. Bentuk dasar yang dimaksud merupakan bentuk linguistik yang menjadi bentuk dasar  rimbag rangkep. Karena bentuk linguistik, maka bentuk dasar tersebut bisa diderivasikan menjadi bentuk turunan lain dalam kalimat yang lain pula.
            Pernyataan serupa dikemukakan oleh Simatupang (1979:15) bahwa setiap bentuk rimbag rangkep (reduplikasi) selalu terdiri atas konstituen dasar dan konstituen ulang. Tampak misalnya dalam kata mloku-mlaku. Bentuk kata tersebut konstituen dasarnya menempati posisi kedua (mlaku), sedangkan konstituen ulangnya menempati konstituen pertama dengan terjadi variasi bunyi. Tergantung dimana posisi konstituen ulangnya, Beliau membedakan menjadi (1) reduplikasi arah kanan dan (2) reduplikasi arah kiri. Disebut reduplikasi arah kanan apabila konstituen ulangnya terletak pada posisi kedua. Dan disebut reduplikasi arah kiri apabila konstituennya terlepak pada posisi pertama.
            Rimbag rangkep (reduplikasi) dapat terjadi dengan jalan pengulangan sebagian bentuk dasar, pengulangan seluruh bentuk dasar, pengulangan dengan memberi variasi fonem, dan pengulangan bentuk dasar berimbuhan (Yasin, 1987 : 129). Berkaitan dengan pengulangan bentuk dasar berimbuhan, Muhajir (1977 : 124 – 128) membedakan dua proses afiksasi dalam reduplikasi. Yakni: (1) reduplikasi terjadi pada bentuk dasar yang telah berafiks; (2) afiksasi dan reduplikasi terjadi secara simultan.

2.        Tinjauan Linguistik Tembung Dwiwasana
Diatas telah disebutkan, bahwa keberadaan tembung dwiwasana dalam bahasa Jawa masih menjadi polemik. Sebagian ahli menyatakan ada dalam bahasa Jawa, sebagian yang lain menyatakan tidak ada. Dikatakan ada karena memang dalam tata bahasa Jawa tradisional selalu kita jumpai klasifikasi bentuk rimbag rangkep yang salah satu bentuknya adalah bentuk dwiwasana, Sedangkan yang menyebut tidak ada karena secara linguistik berbeda proses pembentukanya dibanding yang lain.
Bentuk kata seperti: bedhedheh ‘terbuka kancing bajunya’, begegeh ‘berdiri dengan kaki terbuka/ mengangkang’, cengengesan ‘mengerjakan sesuatu dengan tertawa /tidak serius’, jedhindhil ‘basah kuyup’, cekekar ‘jatuh dalam posisi terbuka’ celuluk ‘menyampaikan pendapat tiba-tiba’, methentheng ‘ tegang / ngotot luar biasa’, jelalatan ‘matanya nanar melihat kesana-kemari’ dan kata-kata semacamnya  banyak dan sering kita jumpai dalam tuturan masyarakat Jawa. Kata seperti itu menurut Poedjosoedarmo (1981: 54 – 56) disebut sebagai tembung dwiwasana.
2.1   Analisis Morfologis
          Proses morfologis adalah prosespembentukan kata dengan pengubahan bentuk dasar tertentu yang berstatus sebagai morfem bermakna leksikal dengan alat pembentuk yang juga berstatus sebagai morfem, tetapi dengan kecenderungan bermakna gramatikal dan bersifat terikat (Sudaryanto 1991:18). Pariera (1988 : 18)menyebutnya sebagai proses morfemis, yaitu proses pembentukan kata bermorfem banyak baik derivatif maupun inflektif. Adapun proses tersebut dapat berwujud afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi.
          Bertolak dari devinisi di atas, berarti proses morfologis memiliki indikasi : (1) memiliki bentuk dasar; (2) memiliki perangkat pembentuk morfem kompleks; dan (3) memiliki fungsi dan nosi secara gramatis. Dwiwasana yang selama ini dikatakan sebagai proses pembentukan kata jadian dengan proses pengulangan suku akir suatu kata, semestinya juga memiliki indikasi seperti di atas. Tembung Dwiwasana mestinya juga memiliki bentuk dasar yang bebas dan dapat bersenyawa dengan proses morfologis yang lain. Proses pengulangan tembung dwiwasana juga mesti memiliki fungsi dan nosi tertentu secara gramatis.
          Kata bedhedheh bentuk dasarnya bedheh (?), kata begegeh bentuk dasarnya begeh (?), kata cekekar bentuk dasarnya cekar (?), kata celuluk bentuk dasarnya celuk (?), kata methentheng bentuk dasarnya mentheng (?), kata jedhindhil bentuk dasarnya jendhil (?), kata jelalatan bentuk dasarnya jelat (?)
          Seandainya benar bahwa kata bedheh, begeh, cekar, celuk, mentheng, jendhil dan jelat merupakan bentuk dasar, maka kata-kata tersebut tentu juga terdapat dalam bentuk morfologis yang lain. Suatu contoh misalnya misalnya kata  mlaku-mlakuberjalan-jalan’. Kata ini berasal dari bentuk dasar mlakuberjalan’ yang mengalami proses diulang seluruh bentuk dasarnya.  Kata mlaku sendiri berasal dari bentuk kompleks yang diturunkan dari bentuk prakategorial (Bp) laku. Dari kala laku menjadi lumaku ‘berjalan’ , kemudian mengalami metateses menjadi mlakuberjalan’. Dari bentuk dasar inilah kemudian menghasilkan derivasi kata turunan lain yang banyak sekali. Selain menjadi kata mlaku-mlaku, juga ditemukan kata: lakon, lelakon,  dilakoni, lakonana, dilakokake, kelakuan, daklakoni, dan sebagainya.
             Morfem mlaku ‘berjalan’ atau morfem laku (Bp) sudah jelas berterima sebagai bentuk dasar dan dapat menurunkan derivasi bentuk kompleks yang lain. Sedangkan morfem: bedheh, begah, cekar, celuk, mentheng, jendhil dan jelat tidak pernah kita temukan dalam bentuk kompleks selain pada kata bedhedheh, begagah, cekekar, celuluk, methentheng, jedhindhil dan jelalat. Tampak misalnya dalam kalimat:
-          Bareng ketemu bocahe padha cekikikan
‘Setelah ditemukan, anaknya (mereka) tertawa-tawa perlahan’
-     Kae lho bocah-bocah klambine pating bedhedheh.
‘Itu lho anak-anak bajunya banyak yang terbuka’
-     Aja mbegagah nang tengah lawang, kancane ora bisa liwat!
‘Jangan menghalangi ditengah pintu, temanya tidak bisa lewat!’
-     Untung nalika aku cekekaran neng tengah dalan ora ana kendharaan liwat!
‘Untung ketika aku terjatuh ditengah jalan tidak ada kendaraan lewat’
-     Aja seneng pethenthengan karo kancane.
‘Jangan suka berlagak angkuh dengan temanya.’
-     Delengen ta anakmu kudanan nganti njedhindhil!
‘Lihatlah anakmu kehujanan sampai basah kuyup.’
       Dari beberapa contoh di atas ternyata morfem bedheh, begah, cekar, celuk, mentheng, jendhil dan jelat tidak memiliki pertautan arti dengan kata bedhedheh, begagah, cekekar, celuluk, methentheng, jedhindhil dan jelalat. Hal ini memungkinkan bahwa kata bedhedheh, begagah, cekekar, celuluk, methentheng, jedhindhil dan jelalat memang bukan diturunkan dari bentuk dasar bedheh, begah, cekar, celuk, mentheng, jendhil dan jelat. Bahkan sering kita temukan bentuk kata: bedhedheh, begagah, cekekar, celuluk, methentheng, jedhindhil dan jelalat bersenyawa dengan partikel ‘pating’. Atau tidak jarang kita temukan dalam bentuk kata ulang berubah bunyi, seperti: bedhedhah-bedhedheh, pethenthang-pethentheng, celulak-celuluk, dan sebagainya.
       Kenyataan diatas menunjukkan bahwa kata yang selama ini kita anggap sebagai bentuk dwiwasana secara morfologis menunjukan proses perulangan, karena tidak diketemukan bentuk dasarnya. Bisa jadi dia adalah bentuk dasar, karena  dari kata tersebut (dwiwasana) bisa diturunkan menjadi bentuk kompleks yang lain. Misalnya kata pethentheng bisa menjadi kata pethenthengan, pating pethentheng, atau pethenthang-pethentheng.
         

2.2   Analisis Sintaksis
            Salah satu fungsi sintaksis tembung rangkep dapat menggantikan frase yang unsur frasenya terdiri atas bentuk dasar dan partikel pating. Tampakmisalnya dalam kalimat :
            ‘Kendharaan sing slira-sliri babar pisan ora narik kawigatene.’
Kata ‘slira-sliri’ pada kalimat tersebut secara timbal balik dapat digantikan dengan frase ‘pating sliri’, sehingga kalimat di atas dapat berubah menjadi :
            ‘Kendharaan sing pating sliri babar pisan ora narik kawigatene.’
            Bagaimana dengan bentuk kata yang selama ini dikenal sebagai tembung dwiwasana?
            Kata cengenges tidak pernah diketemukan dalam keadaan berdiri sendiri secara bebas. Kata tersebut selalu diikuti dengan partikel ‘pating’, atau partikel ‘mak’, atau bersama prefiks /ny-/, atau sufik /-an/. Padahal tidak pernah ditemukan dalam bentuk tembung rangkep yang lain (baik dalam bentuk dwipurwa, dwilingga, maupun dwilingga salin swara) yang bersenyawa dengan partikel ‘pating’. Tidak pernah diketemukan kata ‘pating nenandur’. Tidak pernah diketemukan kata ‘pating mlaku-mlaku’. Tidak pula ditemukan kata ‘pating tolah-toleh’.
            Pada kata yang selama ini kita kenal sebagai bentuk dwiwasana, sering sekali secara gramatis kita ketemukan kata ‘pating cengenges’, ‘pating cekakak’, ‘pating bedhedheh’, ‘pating jedhindhil’, dan semacamnya.
            Bertolak dari kenyataan di atas menunjukkan bahwa secara gramatis kata yang selama ini kita anggap sebagai bentuk dwiwasana tidak menunjukkan ciri perulangan (reduplikasi).

2.3   Analisis Semantik
            Bentuk dasar dan bentuk turunan pada suatu proses morfologis selalu memiliki pertautan makna. Kata ‘tulis’merupakan bentuk prakategorial dan dapat diturunkan menjadi kata: nulis, nulisi, nulisake, ditulis, ditulisi, ditulisake, tulisan, tulisna, nenulis, nulis-nulis, nulas-nulis, dan masih banyak lagi bentuk turunan yang lain. Bentuk-bentuk turunan tersebut secara semantis masih memiliki pertautan makna, baik dalam bentuk kategori verba, nominal maupun ajektif.
            Bandingkan dengan bentuk dasar ‘cenges’ dalam kata ‘cengenges’, bentuk dasar ‘bedheh’ dalam kata ‘bedhedheh’, bentuk dasar ‘cekik’ dalam kata ‘cekikik’, bentuk dasar ‘cekar’ dalam kata ‘cekekar’ serta bentuk dasar ‘jendhil’ dalam kata ‘jedhindhil’.
            Kata cengenges bermakna ‘tertawa dalam keadaan mulut terbuka’. Sedangkan kata ‘cenges’ merupakan bentuk prakategorial. Dari kata ‘cenges’ bisa diturunkan menjadi kata: dicenges ‘dilecehkan’, nyenges  ‘melecehkan’, dan cecenges ‘lecehan’. Namun secara gramatik tidak memiliki pertautan makna dengan kata cengenges ‘tertawa dengan keadaan mulut terbuka’.
            Kata ‘cekik’ tidak pernah kita ketemukan dalam keadaan berdiri sendiri dalam bahasa Jawa. Bentuk kata seperti ini juga tidak memiliki pertautan arti dengan kata cekikik. Demikian juga bentuk bentuk kata seperti: cekar, jegig, jedhog, jelat, dan bentuk-bentuk semacamnya tidak memiliki pertautan arti dengan kata: cekekar, jegagig, jedhodhog, jelalat, dan bentuk-bentuk semacamnya. Bahkan bentuk-bentuk seperti: cekekar, jegagig, jedhodhog, jelalat merupakan bentuk prakategorial yang baru bermakna gramatis setelah bersenyawa dengan partikel pating, mak, atau sufiks /-an/ maupun prefiks /N-/.
            Bertolak dari kenyataan di atas, analisis semantik telah memberi bukti bahwa kata yang selama ini dianggap sebagai bentuk dasar dwiwasana tidak menunjukan pertautan arti dengan bentuk baru yang diturunkan.
                                                                                                       
3.        Simpulan
Tiga bentuk analisis (morfologis, sintaksis, dan semantik) menunjukkan bahwa keberadaan bentuk kata yang selama ini kita kenal sebagai bentuk dwiwasana tidak berterima. Dengan demikian bentuk-bentuk kata seperti: cengenges, bedhedheh, cekekar, jegagig, jedhodhog, jelalat dan bentuk-bentuk semacamnya dinyatakan sebagai bentuk dasar. Yaitu bentuk linguistik yang menjadi dasar bentukan bagi morfem kompleks.
Jadi bentuk yang selama ini dikenal sebagai tembung dwiwasana adalah tembung rangkep semu, yaitu bentuk linguistik yang kenampakannya sebagai tembung rangkep, namun sebenarnya bukan tembung rangkep melainkan bentuk dasar prakategorial yang baru memiliki fungsi dan nosi gramatis setelah bersenyawa dengan partikel pating, mak, prefik /N-/ atau sufiks /-an/.






DAFTAR PUSTAKA

1.        Muhajir
1977             Morfologi Dialek Jakarta: Afiksasi dan Reduplikasi. Jakarta: Nusa
2.        Padmosoekotjo, S
1986             Paramasastra Jawa. Surabaya : Citra Jaya Murti
1987             Memetri Basa Jawi Jilid III. Surabaya : Citra Jaya Murti
3.        Pariera, Jos Daniel
1988             Morfologi. Jakarta : Gramedia
4.        Poedjosoedarmo, Gloria
1981             Sistem Perulangan Dalam Bahasa Jawa. Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
5.        Samsuri
1988             Berbagai Aliran Linguistik Abad XX. Jakarta : Depdikbud
6.        Simatupang, MDS
1979             Reduplikasi Morfemis Bahasa Indonesia. Jakarta : Jambatan
7.        Sudaryanto.
1991             Tata Bahasa Baku Bahasa Jawa. Yogyakarta : Duta Wacana University Pers.
8.        Suwadji
1986             Morfosintaksis Bahasa Jawa. Jakarta : Depdikbud
9.        Verhaar, JWM
1990             Pengantar Linguistik. Jakarta: Jambatan
10.    Yasin, Sulchan
1987             Tinjauan Deskriptif Seputar Morfologi. Surabaya : Usaha Nasional

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by PKS Piyungan